Senin, 20 Juni 2016

Endeavor: The Prologue

PROLOGUE

What a beauty of rose
With all the thorns on its stem. Excruciating pain are developed within each point
With the majestic red crown on its head
Yet we, the admirers of this particular rose still suffer from its beauty




I once wandered through prairie of lost dreams
Seeking the true beauty that would please my heart
This heart was in thirst of love in dazzling gleam
But all this time, all I experienced was only hurt

Until I arrived in this particular garden of beauty
At that time, I still had my vast cloud of despair and doubt
But as I walked through the center of the garden, The cloud began to fade away
The warmth of Sun engulfed my heart
I had no doubt

"This is the happiness I was seeking for a lifetime"

I reached the end of flower tunnel
Greeted by this Rose
This Mystical Rose that had all my answers
She brought me deep into her family
We gathered and welcomed me into the big community

All of my burdens
All of my agony
All of my sufferings
Suddenly disappeared in a blink of an eye

"Is this my final frontier?"
"Or is this only another lesson for me to learn?"

Rose whispered to me, "Worry not, my dear. I will always be here until The Sun sets on the other side of Earth."






~~~~~~~~~End of Prologue~~~~~~~~


Selasa, 28 Mei 2013

Fraud




where all the birds fled by...
when the seagulls have fled to escape...
where the clouds are scarlet red, forming a reddish fortress...
when you came and left in a blink...

I fell to deep slumber where darkness lurks into every soul's core

Though I woke up in this savanna of new world
where no lion is hungry anymore, no prey, no victim
everything seemed so gracious and joyful

even the rocks were singing my favourite serenade, enchanting my soul to its best

Then, I realized there was no happiness like this in any place of this wicked world
I pinched myself to wake myself up from this alluring dream
I opened my eyes but I still resembled the same place
One of the lions said to me, "Why are you going to flee from this absolute happiness? Are you the one who consumed too much sorrow and sadness that finally believes that there is no such happiness in this world?"
I replied, "Hold on, Master of Nemea! I feel so honored to be in this place but I couldn't stand a fraud happiness."

The lion cast me away
I whipped my feet above the sands and swore not to return
So, I continued my journey with these tired feet in pursuit of true Happiness

Senin, 05 November 2012

Matutino Rore

I was stranded in the Land of Cold Blood where mortals can not find warmth in their heart
I decided to light a fire so my heart would not freeze in agony
But not a single spark came from my fire stones
I soon became wondering why I finally reached this place
Did my feet move by themselves leading me here?
Or was it my hollow heart that forced me to wander here?

I met a man which I found next to a spring, he is wearing a black cape with sorrow souls wandering aove his head
I asked him, why did he come here?
He answered nothing
I continued to question him whether he was looking for someone here
He nodded his head
As he nodded his head, a number of sorrow souls came upon his head. Sorrow souls above his head became bigger
I asked him again, "Dear Traveler, who are you?"
He began to move his mouth, he answered, "I am you, the one whose heart has been taken away."
I was startled to death. I ran as fast as I could

Then, Dawn broke in
I stopped my feet and looked into the sky
There was someone whispered to me, "You are now on the Cliffs of Dawn, name yourself!"
I could not answer as I was too ashamed to speak my name
He continued saying, "Why are your feet dried by sorrow, young mortal?" "Have you forgotten that you only live once?" "Morning has come so wipe your manly tears and be on your own way!"
After that, a strong breeze rubbed my face
So I continued my journey in pursuit of inner peace
... until these feet could not move anymore

Senin, 10 September 2012

Serenade of Caged Seagull



Sing, Oh you bird of ocean.
Let me listen to all your sadness and happiness throughout your short life

Sing the sadness with sorrowful tone of your tounge
You once, admired by a poet princess, became her inspiration
She said her life would be banished if you did not sing anymore
She said that you are the melody of marine beauty
Until she left, made your heart caged.
Sorrow became your prison
Tears became the bars
Regrets became the cuffs

Sing the happiness with joyful tone of your tounge
It is now the time
Release yourself from the cage of heart
Fly away and become one with Father Sky
Fuse with the silky clouds of afternoon sky
Cumulus cloud is your wings
Your beak will be translucent so I can see your tounge dancing

Words that she threw to you, finally thrown to other person. Let us consider it as Circle of Life
Let us be on our way
Life still goes on even it is getting heavier
Don't fly too near the Sun unless you want to be Icarus again
Look there are still many fish underneath the ocean
Wipe your tears and sing your lullaby to make me asleep
So I can dream once again

Jumat, 13 April 2012

Surya, Candra, dan Kartika

Setelah lari dari kenyataan kelam, aku memanjat benteng yang mulai memendek itu
Di atas kupandangi langit malam megah, bertahtakan jutaan bintang, senyum rembulan yang begitu tulus, dan angin malam yang merembet di lorong hatiku
Sesaat kupandangi sang Candra, cahayanya perak terasa lembut di pelupuk mata, bagai sepotong kain sutra terbang ke arah pandanganku.
Setelah lama kupandangi, aku menemukan kejanggalan pada Candra, kutemukan bahwa cahaynya palsu, senyum mengkilat-kilat lembut itu hanya pantulan dari kegagahan sang Surya.
Aku pun menjadi jatuh sedih...
Kupandangi Kartika yang menghampar elok menghiasi Angkasa gelap nan misterius. Kartika cahayanya asli, indah namun hanya kurasakan sedikit... sedikit sekali. Kartika itu sangat jauh.
Aku ingin menggapai sang Kartika namun aku hanya dapat berandai menggenggamnya dengan tangan lusuhku ini.
Kartika jelas bukan untuk aku miliki, namun aku tetap ikhlas jika dia tetap menjauh dari aku
Tiba-tiba Angkasa menjadi biru kegelapan, Mega  mulai terlihat berbaris menyambut sang Surya yang akan datang dengan segala kemuliaannya.
Sang Surya mulai mengintip dari balik persenyembunyiannya, aku mulai berdiri hendak menyambutnya juga.
Fajar telah menyingsing
Kenangan sudah paripurna
Hidup harus tetap berlanjut
Meski akan terus semakin berat

Rabu, 29 Februari 2012

Lelah

Lelah hati ini diuji
Lelah hati ini dihujat
Lelah hati ini dipertanyakan
Lelah hati ini difitnah
Lelah hati ini dibohongi

Pernah hati ini kuberikan demi seutuh jiwa dan ragaku namun akhirnya berujung kesengsaraan
Paripurna sudah langkah serta penantianku
Aku terjatuh di lubang yang sudah kulewati sebelumnya

Berharap kebahagiaan masih terpancar dari wajahnya

Biarkan aku sendiri tenngelam dalam kegelapan
Jikalau bertemu lagi denganku, janganlah sesekali menyapaku lagi. Mungkin saja itu bukan aku...
Mungkin saja itu aku yang telah diselimuti kegelapan hati

Rabu, 28 Desember 2011

Regret

Now, my steps have been stopped and I got nothing to do or rely on
It's far too late to say "Don't leave!"...
The seagull has departed and flew to the seventh sky, leaving me earthbound in the cemetery of fallen hopesI
I am now high and dry, still waiting for some miracles to embark upon me
Call me stupid because I deserve to be called like that
This stupidity has flowed in my blood through my vein for a long time, pumped by my lousy heart
the heart that appears to be very wounded and still has its guts to beat...

Can I struggle to live?
This regret is choking me
I suffocate for air of new hope...

Jumat, 23 Desember 2011

Perubahan Wujud

Lama sudah kuceritakan perjalananku mengarungi jembatan harapan yang tak mengarah ini
Kini telah sampai waktunya.. telah purna harapanku..
Hari penentuan telah tiba yakni saatnya jembatan harapan tak berujung ini harus runtuh
Telah lama aku menitinya dan harus sampai titik ini aku harus jatuh
Titik ujung pengharapanku sudah memutuskan tali jembatan ini, menjerembabkan aku ke asa sia-sia

Tak terhitung berapa gelas darah dan pengorbanan yang telah kutumpahkan sebelumnya

Tapi biarlah berlalu...
Meski hati ini meronta untuk hancur, aku tetap menjaganya untuk diriku sendiri
Semoga Sang Putri bahagia selalu, meski hamba tak lagi untuknya

Aku adalah serigala sepi
Melolong di puncak kesendirian
Menunjukkan ketegaran hatinya yang tak hancur meski diterpa angin cobaan
Dengarlah lolonganku...
Engkau harus yakin bahwa aku tidak apa dengan kesendirianku sekarang

Sabtu, 10 September 2011

Jangan Lewatkan Anggur Ini Dari Tanganku

Pada suatu hari aku bertemu penatua yang sangat kuhormati, dia berasal dari kerajaan yang pernah mengeruk hasil tanah bumi tumpah darahku namun aku sangat yakin beliau seorang yang suci

Aku bertanya kepadanya apakah gunanya kita hidup kalau kita terus merasakan sakit
Beliau menjawab dengan nafas penuh kebijaksanaan, "Kamu telah diberikan kehidupan dengan cuma-cuma, dibebaskan untuk mengirup udara sesukamu, bahkan menentukan masa depanmu sendiri. Mengapa kamu mendebat Sang Kuasa, hai anak muda?"

aku sungguh malu akan pertanyaan yang kulontarkan tadi, aku sendiri yang menyiptakan rasa sakit yang akhirnya menyerang diriku sendiri. Mengapa aku menyalahkan sosok lain selain aku sang empunya rasa sakit?
Beliau menatapku dan berkata, "Anakku, aku tahu bahwa engkau akan menyalahkan dirimu sendiri akan segala dosamu tapi ketahuilah memaafkan diri sendiri jauh lebih memulihkan daripada menyalahkan diri sendiri."

diriku terhenyak di sudut pertanyaan, sesaat aku menoleh ke belakang dan menyadari sesuatu bahwa...
hanya engkau yang bisa memulihkan lubang sakit di hatiku
entah dimana kamu...
entah siapa kamu...
aku yakin engkau bukan sekedar fantasiku

Beliau kembali berkata, "Anakku jangan lewatkan anggur ini dari tanganmu..." beliau menyerahkan kepadaku piala berisi anggur kehidupan yang diambil dari segala kebaikan di muka bumi. setelah itu beliau tiba-tiba menghilang...
Lagi-lagi aku terluka karena kehilangan...
Tapi setidaknya aku memegang misi baru dengan piala kehidupan di tanganku yaitu membagi anggur ini denganmu agar aku satu denganmu.

Selasa, 06 September 2011

An Unperfect Rendezvous

I've come back from the land of struggle where my blood boils for truth. I have arrived in the land of magic where I was born and happiness fled by brain and heart as I would meet my princess of Other World.

I am craving her smile and her serenade that she once taught me by her lovely strings of love fragrance
I am so happy to see my whole family gathers around the same table and we lift the same Cup of Ancestor

But suddenly cloud of despair begins to fly above my head because the princess is not willing to see me
I am stuck in the middle of nowhere in my own hometown
Fortunately, I have my old companions of my past comrades that cheer me up with their friendly hug
But I can't deny there is still a hole in my heart which is thirsty for your fresh look, dear princess.

Now I have to go back to the bridge of struggle
and still hope for the next rendezvous
because all I want to say to her is I am bringing this heart of pain and uncertainly, so she can see it through

Selasa, 22 Maret 2011

Telah Kabur. Segera Kabur. Kubur!

kakiku kembali menghentikan jalan langkahku. di sini. tempat yang pun aku bingung artinya
kutengok lagi bayangmu. masih sangat jauh di sana. lebih jauh dari tempo hari. Tragis!
pandanganmu pun tak lagi menatapku. engkau menatap sisi kebencianku. Mengapa?
seharusnya tak kutanyakan kata terkutuk itu lagi, "Mengapa?"
ya, Retorika kembali menertawakanku dengan gelaknya yang menakutkan
ke mana pandangamu itu? padahal aku masih mempertahankan kristal perasaan yang bisa mencair kapan saja ini
untuk apa aku masih sendiri sampai detik ini?
untuk apa aku meluruskan masa depan demi kebahagiaanmu?
untuk apa aku masih bodoh seperti ini?
tahukah engkau panjang kakiku berkurang setelah bermil-mil penantian demi kehadiranmu...

pandangan itu ke mana?

bayangmu tampak amat kabur

haruskah aku segera mengaburkan hadirku di dunia tanpa ujung ini?

"Kabur Saja!", bisik logika. dia menyuruhku lari kembali ke belakang. Belakang? setelah sejauh ini? setelah cucuran darah ini?

"Kubur Saja!", bisik amarah. dia menuntutku mengubur dalam-dalam kristal perasaan dan memori abadi selama ini.

kakiku bergetar. belum berani melangkah mendekati bayangmu yang semakin tak terlihat. apa kubur saja?

masih mendebat diriku sampai tarikh waktu kelam...

Sabtu, 01 Januari 2011

Warsa

runtuhlah langit lama menjadi debu-debu angkasa yang berkilapan cahaya di atas Atlas
selagi itu langit yang baru berdatangan menggenggam mimpi-mimpi baru di tahun yang baru. Mimpi itu masih ada
kenanganku harusnya hancur bersama supernova akhir tahun tetapi sayangnya tidak. Mimpi baru dan kenangan lama tetap mengarungi dalamnya palung hati. entah siapa yang akan menang dan bertahan dalam tekanan
hanya bisa mengharapkan fusi yang mustahil dari mimpi dan kenangan itu sendiri. yah mustahil jika engkau nalar. apa yang tidak bisa manusia nalar?
aku masih belum bisa mencabut excalibur yang menancap di hati, kelak dengan mata pedangnya akan kutebas sgala memori lama dan membenamkannya di kediaman kegelapan.
Dewa Bayu telah meniupkan angin pembaharuan, hiruplah!


Maafkanlah 2010. Tataplah 2011. Langit masih terbentang tinggi untukmu, aku akan membantu menopangnya agar langit tak lagi runtuh menimpamu. biar kepala ini yang luka asal kamu tak tergores

Sabtu, 18 Desember 2010

Terlarang

Apa yang kamu lakukan ketika melihat tanda larangan?
Apa yang kamu lakukan ketika melihat jurang tanpa jembatan yang menghubungkan ke jurang seberang?
Apa yang kamu lakukan jika kuasa Langit menghalangi langkahmu?

langkah terhenti. berjalan lagi. terhenti lagi. darah terasa mengering di sekitar tulang kering
sejenak menoleh ke belakang... kebahagiaan nyata itu sudah hilang tak terlihat pelupuk mata. hanya kabut
kebahagiaan hanya terlihat di depan tapi kebahagiaan itu maya, abstrak, tak tentu berbentuk ada maupun tiada.

akhirnya karena kebodohan ini mengalahkan logika, kaki sial ini terus berjalan menuju ketidaktentuan.

sampai kapan.. entah.. aku hanya bisa memandangi wajahmu di depan. luka di lubang dada ini tidak lagi masalah

Sabtu, 30 Oktober 2010

Gundah, Sesal, Kesal bukan punya Yang Maha Kuasa

ketika berjalan di pertengahan seperti ini, langit seakan menunjukkan tanda yang paling membuatku bertanya pada selaksa debu yang terbang, "mengapa Langit mendung kembali?"
tanyaku tidak ada yang mampu bahkan berani menjawabnya. tak ada yang mampu menyangkal kuasa kahyangan Sang Langit.
namun mengapa gumpalan mega kelabu yang terus menggelayuti kolong langit ini membisikkan sesuatu.
suatu yang membuat hati yang keras bagai intan menjadi rombak susunan karbonnya menjadi arang
mengapa aku memiliki ini? tidak, mengapa aku memilih jalan ini? selalu ada beribu-ribu jalan ke Babylonia, selalu ada banyak jalan untuk menjemputmu.
entah siapa "kamu" itu...
entah pedulikah "kamu" itu...
aku masih menyeret langkah lelahku menuju kamu. tak usah kamu ragukan kesungguhanku!
darah ini hampir habis untukmu. demi perasaan...

Kamis, 30 September 2010

Asma Asmara

Jauh telah kujalani titian jembatan dari Timur Pelosok Sang Cerah. Tak pernah kutemui ada jembatan bercabang seperti ini, yang satu menuntunmu ke cinta cita dan kekelaman serta yang satunya lagi menuntunmu ke realita dan logika bengis kejam tak tahu rasa elegi perih hati.

Andaikan aku bisa membuat jembatanku sendiri. Andaikan aku bisa menyeberangi kepalsuan dan kesemuan dunia nyata ini. Namun kata "andaikan" hanyalah sampah di mata kenyataan. Kenyataan tidak pernah berpihak namun kenyataan menebas semua harapan indah. Kalau kulihat ke belakang, aku masih punya kejayaan di belakang punggungku, siap untuk menyambutku kapan saja. Entah kebodohan apa yang menyebabkan aku jalan terus. Aku mengikuti feromon kasihmu, bahkan ke jurang pun aku ikuti. Kamu yang membuatku menderita karena kehausan kasih ini.Kamu yang membuatku bahagia atas derita ini. Kamu yang membuatku menantang kehendak Dewata.

Masihkah engkau bimbang karenaku?

Kamis, 16 September 2010

Icarus turun untuk terbang lagi

Kutemukan sudah relung nasibku di satu tujuan.
namun rintangan masih tetap bernapas tak pelak kini dia sedang diawasi oleh seonggok makhluk
akankah manusia yang turun dari langit, yang telah menantang Dewata gentar?
retorika hanya tertawa mendengar pernyataan berakhiran questio itu.

Langitku memang dari zaman dahulu. Pernah kelam, pernah terang
namun Langitku memiliki sesuatu yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Sang Dewi yang telah meninggalkan tahta dan melepaskan mahkotanya dahulu.
Kedatanganku memang menjadi pertanyaan dan dengki namun sesungguhnya aku datang demi cintaku. sesungguhnya Sang Dewi harus tahu itu.

Pada saatnya Astarte akan kembali menyematkan mahkota itu pada Dewi dan mungkin akan mengalungkan pedang yang ditempanya di Hutan Lebanon ke lehermu, wahai makhluk.

cintaku bukan hanya satu sloki anggur manis namun lebih besar dari Orchard Bapaku

Sabtu, 21 Agustus 2010

Icarus

dulu memang dosa. tapa kita memang berbeda arah. tapi kita yang hanya abu memaksa bersatu, entah apa kata Sang Dewata. aku pun takut.
Dia tak perlu menurunkan khaos, hanya waktu yang Dia turunkan untuk menghancurkan genggaman tangan kita
mungkin kita terbang terlalu dekat dengan keagunganNya sampai akhirnya sayap-sayap patah kita terbakar dan terhempas ke pusara.
berharap kita kan menang. masih. entah kapan. entah dimana. aku masih menggurat sepi dimana kata masih bersembunyi malu

Jumat, 13 Agustus 2010

Prologue I

Karena cinta itu hakiki, melewati batas kosmis dan khaos; Seperti Sang Pencipta dengan cintanya menciptakan tempat untuk kita bersanding
Mungkin bibit cintaku kecil, lebih kecil dari biji sesawi tapi hanya hatimu tempat yang menjadikannya lebih besar dari pohon redwood. Mungkin cinta itu pernah tumbang dan menimpaku, hingga sakit. sampai....

Kamis, 12 Agustus 2010

Cinta pada umumnya

Ketika pertama kali melihat sesosok makhluk ciptaan Tuhan yang indah, mungkin kita belum menyadari bahwa suatu saat kita akan tertarik padanya.


Pada awalnya kita hanya kagum dengan parasnya begitu teduh untuk dipandang. Hanya sebatas itu dan itu saja. Namun waktu yang hebat mengubah segalanya.
Tak disangka ketika dua sejoli saling berkenalan dan menunjukkan ketertarikan masing-masing, timbullah hal yang santer disebut orang sebagai cinta. Cinta bak sepasang burung merpati yang sejatinya bermonogami.

Obrolan demi obrolan dilalui dengan gelak tawa dan rasa rindu untuk terus bisa mengenal sang pujaan hati. Kita ingin tahu apa yang dia suka, warna favoritnya, lagu, makanan, bahkan keluarganya sekalipun. Kita pasti menganggap dengan mengenalnya lebih pasti aku dianggapnya lebih dari sekedar teman, tetapi teman dimana yang ingin menapak di jalan yang berujung pada halte dimana kita berharap ia akan menunggu kita untuk berjalan bersamanya.

Ketika ia pun memiliki perasaan yang sama dan kita pun menyadarinya dari sikapnya kepada kita, gaya bahasanya, dan senyumannya yang tersimpul jika berpapasan di jalan dengan kita. Hati pun bergejolak. Apakah kita harus menyatakannya? Apakah harus? Apakah cukup sebatas ini? Toh kita pun sekarang bahagia dengan kedekatan ini. Tapi bagaimana jika dia akhirnya melupakan kita dan menjadi milik orang lain? Apakah kita layak marah, gusar, dan benci akan dia? Tidak! Bagi yang berjiwa mantap dan optimis pasti akan menyatakannya di saat yang tepat, waktu yang tepat, dan suasana yang tepat. Proses pernyataan perasaan pun beragam. Ada yang melalui telpon, pesan, atau bersikap gentle dengan menyatakan langsung di hadapannya. Kemantapan hati bercampur harapan yang dihiasi keraguan terus meraung ketika menyatakan perasaan. Ketika kata-kata itu keluar dari mulut kita, badan kita pun bergetar. Resah menunggu jawaban dari dia.
Dia pun kaget atau pura-pura untuk terkejut karena mungkin ia sudah tahu akan kejadian ini.
Jawabannya pun beragam. Ada yang berupa 'Iya' yang mantap, 'Iya' penuh ragu, 'Kupikir-pikir dulu', dan 'Tidak'.
Ketika mendapat jawaban iya, kita pun langsung terbuai bahagia bagai diangkat ke langit ketujuh. Tetapi jika jawaban tidak didapat. Ketegaran hati yang jadi tameng dari deraan sakit hati. Jiwa yang tegar akan menerima dengan ikhlas karena toh jika dipaksa bersama kita tidak akan bahagia. Tetapi untuk jiwa yang egois dan pecundang akan merubah rasa cinta itu menjadi rasa benci yang amat sangat. Ketipisan rasa sayang dan benci menjadi faktor utama. Tetapi tak jarang ada yang meminta untuk ia memikirkan lagi. Padahal ia pun mendapat jawaban tidak.

Waktu berjalan dengan rasa cinta pada bulan pertama.. Kedua.. Ketiga kalau tahan. Keempat.
Dan mulai muncul sifat pribadi yang berlawanan falsafah dengan pasangan yang kerap berujung masalah. Untuk sebagian yang menjunjung tinggi keluhuran cinta maka masalah-masalah hanya sebagai obat pahit untuk kelancaran perjalanan cinta bukan penyebab perjalanan berakhir. Dan akhirnya merubah rasa cinta yang dulu begitu membara panas menjadi sikap dingin sedingin es di Samudera Arktik.

Dan jika dihadapkan pada kenyataan harus berpisah karena masalah pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya. Keteguhan cinta yang memegang peran langgengnya cinta. Tapi bisa saja ketidakpastian ujung perjalanan cinta menjadi pemutus hubungan. Tetapi pada hal ini mereka pada umumnya akan putus dengan kesepakatan damai. Tanpa merubah cinta menjadi benci.
Cinta memang bukan benci meskipun perbedaannya sangat tipis.
Melepas kepergiannya memang menyakitkan tapi dengan melepasnya kita pun menunjukkan betapa kita mencintai dia karena kita mau segala yang baik untuk dia. Melepasnya bukan berarti kalah. Tetapi sudah menang dari awal. Karena keteguhan cinta menjadi trofi yang tak terlihat.

Cinta itu seperti obat. Bisa menyembuhkanmu. Tapi bisa juga meracunimu.
Pilihlah cinta yang hakiki dan suci. Berlandas kasih yang tak terhingga seperti cinta Tuhan pada umatNya. Cinta ibu terhadap anaknya.
Karena pada hakikatnya buah cinta adalah kebahagiaan. Bukan kebencian. Bagi yang menghasilkan kebencian adalah mereka yang tertimpa pohon cintanya yang tumbang ketika putus hubungan. Semakin tinggi dan besar pohonnya, semakin sakit ketika ditimpa. Tapi jiwa yang tegar akan mampu menahan timpaan itu dan menaruhnya kembali dengan badan tegak dan tidak meringis kesakitan.

sebenarnya ini pernah dipublish lewat note di FB

Sabtu, 31 Juli 2010

mengejar mimpi kosong

Terpintas ketika akan angkat kaki dari pulau perantauan kembali ke haribaan tanah darah akan menemukan jawaban dari segala gundah dan cemas
Ternyata cuma hanya habis termakan waktu malas, malas, dan sangat malas...
Terkesan seperti mengejar mimpi kosong dan menghidupkan memori sial
Tak ada satu lepas kata pun dari lidah brengsek dari si brengsek ini. Hidup makin tertelan kekecewaan. Kecewa sampai membelah cermin sendiri.
Cuma bisa merasakan sedih dari rasa senangnya, mungkin ini balas dendam tapi entahlah cuma Yang Maha Mengetahui yang punya jawabannya.
Kembali ke sini dengan membawa rasa kecewa. Semoga perasaan itu masih ada meskipun dalam tak terlihat oleh pancaran sinar bahagia barunya. Saya sudah cukup senang di kedalaman ini