Selasa, 22 Maret 2011

Telah Kabur. Segera Kabur. Kubur!

kakiku kembali menghentikan jalan langkahku. di sini. tempat yang pun aku bingung artinya
kutengok lagi bayangmu. masih sangat jauh di sana. lebih jauh dari tempo hari. Tragis!
pandanganmu pun tak lagi menatapku. engkau menatap sisi kebencianku. Mengapa?
seharusnya tak kutanyakan kata terkutuk itu lagi, "Mengapa?"
ya, Retorika kembali menertawakanku dengan gelaknya yang menakutkan
ke mana pandangamu itu? padahal aku masih mempertahankan kristal perasaan yang bisa mencair kapan saja ini
untuk apa aku masih sendiri sampai detik ini?
untuk apa aku meluruskan masa depan demi kebahagiaanmu?
untuk apa aku masih bodoh seperti ini?
tahukah engkau panjang kakiku berkurang setelah bermil-mil penantian demi kehadiranmu...

pandangan itu ke mana?

bayangmu tampak amat kabur

haruskah aku segera mengaburkan hadirku di dunia tanpa ujung ini?

"Kabur Saja!", bisik logika. dia menyuruhku lari kembali ke belakang. Belakang? setelah sejauh ini? setelah cucuran darah ini?

"Kubur Saja!", bisik amarah. dia menuntutku mengubur dalam-dalam kristal perasaan dan memori abadi selama ini.

kakiku bergetar. belum berani melangkah mendekati bayangmu yang semakin tak terlihat. apa kubur saja?

masih mendebat diriku sampai tarikh waktu kelam...

Sabtu, 01 Januari 2011

Warsa

runtuhlah langit lama menjadi debu-debu angkasa yang berkilapan cahaya di atas Atlas
selagi itu langit yang baru berdatangan menggenggam mimpi-mimpi baru di tahun yang baru. Mimpi itu masih ada
kenanganku harusnya hancur bersama supernova akhir tahun tetapi sayangnya tidak. Mimpi baru dan kenangan lama tetap mengarungi dalamnya palung hati. entah siapa yang akan menang dan bertahan dalam tekanan
hanya bisa mengharapkan fusi yang mustahil dari mimpi dan kenangan itu sendiri. yah mustahil jika engkau nalar. apa yang tidak bisa manusia nalar?
aku masih belum bisa mencabut excalibur yang menancap di hati, kelak dengan mata pedangnya akan kutebas sgala memori lama dan membenamkannya di kediaman kegelapan.
Dewa Bayu telah meniupkan angin pembaharuan, hiruplah!


Maafkanlah 2010. Tataplah 2011. Langit masih terbentang tinggi untukmu, aku akan membantu menopangnya agar langit tak lagi runtuh menimpamu. biar kepala ini yang luka asal kamu tak tergores

Sabtu, 18 Desember 2010

Terlarang

Apa yang kamu lakukan ketika melihat tanda larangan?
Apa yang kamu lakukan ketika melihat jurang tanpa jembatan yang menghubungkan ke jurang seberang?
Apa yang kamu lakukan jika kuasa Langit menghalangi langkahmu?

langkah terhenti. berjalan lagi. terhenti lagi. darah terasa mengering di sekitar tulang kering
sejenak menoleh ke belakang... kebahagiaan nyata itu sudah hilang tak terlihat pelupuk mata. hanya kabut
kebahagiaan hanya terlihat di depan tapi kebahagiaan itu maya, abstrak, tak tentu berbentuk ada maupun tiada.

akhirnya karena kebodohan ini mengalahkan logika, kaki sial ini terus berjalan menuju ketidaktentuan.

sampai kapan.. entah.. aku hanya bisa memandangi wajahmu di depan. luka di lubang dada ini tidak lagi masalah

Sabtu, 30 Oktober 2010

Gundah, Sesal, Kesal bukan punya Yang Maha Kuasa

ketika berjalan di pertengahan seperti ini, langit seakan menunjukkan tanda yang paling membuatku bertanya pada selaksa debu yang terbang, "mengapa Langit mendung kembali?"
tanyaku tidak ada yang mampu bahkan berani menjawabnya. tak ada yang mampu menyangkal kuasa kahyangan Sang Langit.
namun mengapa gumpalan mega kelabu yang terus menggelayuti kolong langit ini membisikkan sesuatu.
suatu yang membuat hati yang keras bagai intan menjadi rombak susunan karbonnya menjadi arang
mengapa aku memiliki ini? tidak, mengapa aku memilih jalan ini? selalu ada beribu-ribu jalan ke Babylonia, selalu ada banyak jalan untuk menjemputmu.
entah siapa "kamu" itu...
entah pedulikah "kamu" itu...
aku masih menyeret langkah lelahku menuju kamu. tak usah kamu ragukan kesungguhanku!
darah ini hampir habis untukmu. demi perasaan...

Kamis, 30 September 2010

Asma Asmara

Jauh telah kujalani titian jembatan dari Timur Pelosok Sang Cerah. Tak pernah kutemui ada jembatan bercabang seperti ini, yang satu menuntunmu ke cinta cita dan kekelaman serta yang satunya lagi menuntunmu ke realita dan logika bengis kejam tak tahu rasa elegi perih hati.

Andaikan aku bisa membuat jembatanku sendiri. Andaikan aku bisa menyeberangi kepalsuan dan kesemuan dunia nyata ini. Namun kata "andaikan" hanyalah sampah di mata kenyataan. Kenyataan tidak pernah berpihak namun kenyataan menebas semua harapan indah. Kalau kulihat ke belakang, aku masih punya kejayaan di belakang punggungku, siap untuk menyambutku kapan saja. Entah kebodohan apa yang menyebabkan aku jalan terus. Aku mengikuti feromon kasihmu, bahkan ke jurang pun aku ikuti. Kamu yang membuatku menderita karena kehausan kasih ini.Kamu yang membuatku bahagia atas derita ini. Kamu yang membuatku menantang kehendak Dewata.

Masihkah engkau bimbang karenaku?

Kamis, 16 September 2010

Icarus turun untuk terbang lagi

Kutemukan sudah relung nasibku di satu tujuan.
namun rintangan masih tetap bernapas tak pelak kini dia sedang diawasi oleh seonggok makhluk
akankah manusia yang turun dari langit, yang telah menantang Dewata gentar?
retorika hanya tertawa mendengar pernyataan berakhiran questio itu.

Langitku memang dari zaman dahulu. Pernah kelam, pernah terang
namun Langitku memiliki sesuatu yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Sang Dewi yang telah meninggalkan tahta dan melepaskan mahkotanya dahulu.
Kedatanganku memang menjadi pertanyaan dan dengki namun sesungguhnya aku datang demi cintaku. sesungguhnya Sang Dewi harus tahu itu.

Pada saatnya Astarte akan kembali menyematkan mahkota itu pada Dewi dan mungkin akan mengalungkan pedang yang ditempanya di Hutan Lebanon ke lehermu, wahai makhluk.

cintaku bukan hanya satu sloki anggur manis namun lebih besar dari Orchard Bapaku

Sabtu, 21 Agustus 2010

Icarus

dulu memang dosa. tapa kita memang berbeda arah. tapi kita yang hanya abu memaksa bersatu, entah apa kata Sang Dewata. aku pun takut.
Dia tak perlu menurunkan khaos, hanya waktu yang Dia turunkan untuk menghancurkan genggaman tangan kita
mungkin kita terbang terlalu dekat dengan keagunganNya sampai akhirnya sayap-sayap patah kita terbakar dan terhempas ke pusara.
berharap kita kan menang. masih. entah kapan. entah dimana. aku masih menggurat sepi dimana kata masih bersembunyi malu