I was stranded in the Land of Cold Blood where mortals can not find warmth in their heart
I decided to light a fire so my heart would not freeze in agony
But not a single spark came from my fire stones
I soon became wondering why I finally reached this place
Did my feet move by themselves leading me here?
Or was it my hollow heart that forced me to wander here?
I met a man which I found next to a spring, he is wearing a black cape with sorrow souls wandering aove his head
I asked him, why did he come here?
He answered nothing
I continued to question him whether he was looking for someone here
He nodded his head
As he nodded his head, a number of sorrow souls came upon his head. Sorrow souls above his head became bigger
I asked him again, "Dear Traveler, who are you?"
He began to move his mouth, he answered, "I am you, the one whose heart has been taken away."
I was startled to death. I ran as fast as I could
Then, Dawn broke in
I stopped my feet and looked into the sky
There was someone whispered to me, "You are now on the Cliffs of Dawn, name yourself!"
I could not answer as I was too ashamed to speak my name
He continued saying, "Why are your feet dried by sorrow, young mortal?" "Have you forgotten that you only live once?" "Morning has come so wipe your manly tears and be on your own way!"
After that, a strong breeze rubbed my face
So I continued my journey in pursuit of inner peace
... until these feet could not move anymore
manusia mempunyai relung dan ambang perasaan hatinya. lewat blog. kala rasa dan doa bersatu di dunia maya ciptaan dunia nyata
Senin, 05 November 2012
Senin, 10 September 2012
Serenade of Caged Seagull
Sing, Oh you bird of ocean.
Let me listen to all your sadness and happiness throughout your short life
Sing the sadness with sorrowful tone of your tounge
You once, admired by a poet princess, became her inspiration
She said her life would be banished if you did not sing anymore
She said that you are the melody of marine beauty
Until she left, made your heart caged.
Sorrow became your prison
Tears became the bars
Regrets became the cuffs
Sing the happiness with joyful tone of your tounge
It is now the time
Release yourself from the cage of heart
Fly away and become one with Father Sky
Fuse with the silky clouds of afternoon sky
Cumulus cloud is your wings
Your beak will be translucent so I can see your tounge dancing
Words that she threw to you, finally thrown to other person. Let us consider it as Circle of Life
Let us be on our way
Life still goes on even it is getting heavier
Don't fly too near the Sun unless you want to be Icarus again
Look there are still many fish underneath the ocean
Wipe your tears and sing your lullaby to make me asleep
So I can dream once again
Jumat, 13 April 2012
Surya, Candra, dan Kartika
Setelah lari dari kenyataan kelam, aku memanjat benteng yang mulai memendek itu
Di atas kupandangi langit malam megah, bertahtakan jutaan bintang, senyum rembulan yang begitu tulus, dan angin malam yang merembet di lorong hatiku
Sesaat kupandangi sang Candra, cahayanya perak terasa lembut di pelupuk mata, bagai sepotong kain sutra terbang ke arah pandanganku.
Setelah lama kupandangi, aku menemukan kejanggalan pada Candra, kutemukan bahwa cahaynya palsu, senyum mengkilat-kilat lembut itu hanya pantulan dari kegagahan sang Surya.
Aku pun menjadi jatuh sedih...
Kupandangi Kartika yang menghampar elok menghiasi Angkasa gelap nan misterius. Kartika cahayanya asli, indah namun hanya kurasakan sedikit... sedikit sekali. Kartika itu sangat jauh.
Aku ingin menggapai sang Kartika namun aku hanya dapat berandai menggenggamnya dengan tangan lusuhku ini.
Kartika jelas bukan untuk aku miliki, namun aku tetap ikhlas jika dia tetap menjauh dari aku
Tiba-tiba Angkasa menjadi biru kegelapan, Mega mulai terlihat berbaris menyambut sang Surya yang akan datang dengan segala kemuliaannya.
Sang Surya mulai mengintip dari balik persenyembunyiannya, aku mulai berdiri hendak menyambutnya juga.
Fajar telah menyingsing
Kenangan sudah paripurna
Hidup harus tetap berlanjut
Meski akan terus semakin berat
Di atas kupandangi langit malam megah, bertahtakan jutaan bintang, senyum rembulan yang begitu tulus, dan angin malam yang merembet di lorong hatiku
Sesaat kupandangi sang Candra, cahayanya perak terasa lembut di pelupuk mata, bagai sepotong kain sutra terbang ke arah pandanganku.
Setelah lama kupandangi, aku menemukan kejanggalan pada Candra, kutemukan bahwa cahaynya palsu, senyum mengkilat-kilat lembut itu hanya pantulan dari kegagahan sang Surya.
Aku pun menjadi jatuh sedih...
Kupandangi Kartika yang menghampar elok menghiasi Angkasa gelap nan misterius. Kartika cahayanya asli, indah namun hanya kurasakan sedikit... sedikit sekali. Kartika itu sangat jauh.
Aku ingin menggapai sang Kartika namun aku hanya dapat berandai menggenggamnya dengan tangan lusuhku ini.
Kartika jelas bukan untuk aku miliki, namun aku tetap ikhlas jika dia tetap menjauh dari aku
Tiba-tiba Angkasa menjadi biru kegelapan, Mega mulai terlihat berbaris menyambut sang Surya yang akan datang dengan segala kemuliaannya.
Sang Surya mulai mengintip dari balik persenyembunyiannya, aku mulai berdiri hendak menyambutnya juga.
Fajar telah menyingsing
Kenangan sudah paripurna
Hidup harus tetap berlanjut
Meski akan terus semakin berat
Rabu, 29 Februari 2012
Lelah
Lelah hati ini diuji
Lelah hati ini dihujat
Lelah hati ini dipertanyakan
Lelah hati ini difitnah
Lelah hati ini dibohongi
Pernah hati ini kuberikan demi seutuh jiwa dan ragaku namun akhirnya berujung kesengsaraan
Paripurna sudah langkah serta penantianku
Aku terjatuh di lubang yang sudah kulewati sebelumnya
Berharap kebahagiaan masih terpancar dari wajahnya
Biarkan aku sendiri tenngelam dalam kegelapan
Jikalau bertemu lagi denganku, janganlah sesekali menyapaku lagi. Mungkin saja itu bukan aku...
Mungkin saja itu aku yang telah diselimuti kegelapan hati
Lelah hati ini dihujat
Lelah hati ini dipertanyakan
Lelah hati ini difitnah
Lelah hati ini dibohongi
Pernah hati ini kuberikan demi seutuh jiwa dan ragaku namun akhirnya berujung kesengsaraan
Paripurna sudah langkah serta penantianku
Aku terjatuh di lubang yang sudah kulewati sebelumnya
Berharap kebahagiaan masih terpancar dari wajahnya
Biarkan aku sendiri tenngelam dalam kegelapan
Jikalau bertemu lagi denganku, janganlah sesekali menyapaku lagi. Mungkin saja itu bukan aku...
Mungkin saja itu aku yang telah diselimuti kegelapan hati
Rabu, 28 Desember 2011
Regret
Now, my steps have been stopped and I got nothing to do or rely on
It's far too late to say "Don't leave!"...
The seagull has departed and flew to the seventh sky, leaving me earthbound in the cemetery of fallen hopesI
I am now high and dry, still waiting for some miracles to embark upon me
Call me stupid because I deserve to be called like that
This stupidity has flowed in my blood through my vein for a long time, pumped by my lousy heart
the heart that appears to be very wounded and still has its guts to beat...
Can I struggle to live?
This regret is choking me
I suffocate for air of new hope...
It's far too late to say "Don't leave!"...
The seagull has departed and flew to the seventh sky, leaving me earthbound in the cemetery of fallen hopesI
I am now high and dry, still waiting for some miracles to embark upon me
Call me stupid because I deserve to be called like that
This stupidity has flowed in my blood through my vein for a long time, pumped by my lousy heart
the heart that appears to be very wounded and still has its guts to beat...
Can I struggle to live?
This regret is choking me
I suffocate for air of new hope...
Jumat, 23 Desember 2011
Perubahan Wujud
Lama sudah kuceritakan perjalananku mengarungi jembatan harapan yang tak mengarah ini
Kini telah sampai waktunya.. telah purna harapanku..
Hari penentuan telah tiba yakni saatnya jembatan harapan tak berujung ini harus runtuh
Telah lama aku menitinya dan harus sampai titik ini aku harus jatuh
Titik ujung pengharapanku sudah memutuskan tali jembatan ini, menjerembabkan aku ke asa sia-sia
Tak terhitung berapa gelas darah dan pengorbanan yang telah kutumpahkan sebelumnya
Tapi biarlah berlalu...
Meski hati ini meronta untuk hancur, aku tetap menjaganya untuk diriku sendiri
Semoga Sang Putri bahagia selalu, meski hamba tak lagi untuknya
Aku adalah serigala sepi
Melolong di puncak kesendirian
Menunjukkan ketegaran hatinya yang tak hancur meski diterpa angin cobaan
Dengarlah lolonganku...
Engkau harus yakin bahwa aku tidak apa dengan kesendirianku sekarang
Kini telah sampai waktunya.. telah purna harapanku..
Hari penentuan telah tiba yakni saatnya jembatan harapan tak berujung ini harus runtuh
Telah lama aku menitinya dan harus sampai titik ini aku harus jatuh
Titik ujung pengharapanku sudah memutuskan tali jembatan ini, menjerembabkan aku ke asa sia-sia
Tak terhitung berapa gelas darah dan pengorbanan yang telah kutumpahkan sebelumnya
Tapi biarlah berlalu...
Meski hati ini meronta untuk hancur, aku tetap menjaganya untuk diriku sendiri
Semoga Sang Putri bahagia selalu, meski hamba tak lagi untuknya
Aku adalah serigala sepi
Melolong di puncak kesendirian
Menunjukkan ketegaran hatinya yang tak hancur meski diterpa angin cobaan
Dengarlah lolonganku...
Engkau harus yakin bahwa aku tidak apa dengan kesendirianku sekarang
Sabtu, 10 September 2011
Jangan Lewatkan Anggur Ini Dari Tanganku
Pada suatu hari aku bertemu penatua yang sangat kuhormati, dia berasal dari kerajaan yang pernah mengeruk hasil tanah bumi tumpah darahku namun aku sangat yakin beliau seorang yang suci
Aku bertanya kepadanya apakah gunanya kita hidup kalau kita terus merasakan sakit
Beliau menjawab dengan nafas penuh kebijaksanaan, "Kamu telah diberikan kehidupan dengan cuma-cuma, dibebaskan untuk mengirup udara sesukamu, bahkan menentukan masa depanmu sendiri. Mengapa kamu mendebat Sang Kuasa, hai anak muda?"
aku sungguh malu akan pertanyaan yang kulontarkan tadi, aku sendiri yang menyiptakan rasa sakit yang akhirnya menyerang diriku sendiri. Mengapa aku menyalahkan sosok lain selain aku sang empunya rasa sakit?
Beliau menatapku dan berkata, "Anakku, aku tahu bahwa engkau akan menyalahkan dirimu sendiri akan segala dosamu tapi ketahuilah memaafkan diri sendiri jauh lebih memulihkan daripada menyalahkan diri sendiri."
diriku terhenyak di sudut pertanyaan, sesaat aku menoleh ke belakang dan menyadari sesuatu bahwa...
hanya engkau yang bisa memulihkan lubang sakit di hatiku
entah dimana kamu...
entah siapa kamu...
aku yakin engkau bukan sekedar fantasiku
Beliau kembali berkata, "Anakku jangan lewatkan anggur ini dari tanganmu..." beliau menyerahkan kepadaku piala berisi anggur kehidupan yang diambil dari segala kebaikan di muka bumi. setelah itu beliau tiba-tiba menghilang...
Lagi-lagi aku terluka karena kehilangan...
Tapi setidaknya aku memegang misi baru dengan piala kehidupan di tanganku yaitu membagi anggur ini denganmu agar aku satu denganmu.
Aku bertanya kepadanya apakah gunanya kita hidup kalau kita terus merasakan sakit
Beliau menjawab dengan nafas penuh kebijaksanaan, "Kamu telah diberikan kehidupan dengan cuma-cuma, dibebaskan untuk mengirup udara sesukamu, bahkan menentukan masa depanmu sendiri. Mengapa kamu mendebat Sang Kuasa, hai anak muda?"
aku sungguh malu akan pertanyaan yang kulontarkan tadi, aku sendiri yang menyiptakan rasa sakit yang akhirnya menyerang diriku sendiri. Mengapa aku menyalahkan sosok lain selain aku sang empunya rasa sakit?
Beliau menatapku dan berkata, "Anakku, aku tahu bahwa engkau akan menyalahkan dirimu sendiri akan segala dosamu tapi ketahuilah memaafkan diri sendiri jauh lebih memulihkan daripada menyalahkan diri sendiri."
diriku terhenyak di sudut pertanyaan, sesaat aku menoleh ke belakang dan menyadari sesuatu bahwa...
hanya engkau yang bisa memulihkan lubang sakit di hatiku
entah dimana kamu...
entah siapa kamu...
aku yakin engkau bukan sekedar fantasiku
Beliau kembali berkata, "Anakku jangan lewatkan anggur ini dari tanganmu..." beliau menyerahkan kepadaku piala berisi anggur kehidupan yang diambil dari segala kebaikan di muka bumi. setelah itu beliau tiba-tiba menghilang...
Lagi-lagi aku terluka karena kehilangan...
Tapi setidaknya aku memegang misi baru dengan piala kehidupan di tanganku yaitu membagi anggur ini denganmu agar aku satu denganmu.
Langganan:
Postingan (Atom)